Posted by: p4mristkippgrisda | May 13, 2011

LEGENDA PULAU KEMARO

Legenda Pulau Kemaro

 

Gambar. Pulau Kemaro

Belajar Matematika melalui cerita rakyat

Oleh: Lestariningsih

Alkisah, di daerah Sumatera Selatan, tersebutlah seorang raja bertahta di Kerajaan Sriwijaya. Raja tersebut mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Siti Fatimah. Selain cantik, ia juga berperangai baik.   Sopan-santun dan tutur bahasanya yang lembut mencerminkan sifat seorang putri raja. Kecantikan dan keelokan perangainya mengundang decak kagum para pemuda di Negeri Palembang. Namun tak seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena kedua orang tuanya menginginkan ia menikah dengan putra raja yang kaya raya.

Pada suatu hari, datanglah seorang raja dari Negeri Cina bernama Tan Bun Ann untuk berniaga di Negeri Palembang. Putra raja Cina itu berniat untuk tinggal beberapa lama di negeri itu, karena ia ingin mengembangkan usahanya. Sebagai seorang pendatang, Tan Bun Ann datang menghadap kepada Raja Sriwijaya untuk memberitahukan maksud kedatangannya ke negeri itu.

“Ampun, Baginda! Nama hamba Tan Bun Ann, putra raja dari negeri Cina. Jika diperkenankan, hamba bermaksud tinggal di negeri ini dalam waktu beberapa lama untuk berniaga,” kata Tan Bun Ann sambil member hormat.

“Baiklah, Anak muda! Aku perkenankan kamu tinggal di negeri ini, tapi dengan syarat kamu harus menyerahkan sebagian untung”  yang kamu peroleh kepada kerajaan,” pinta Raja Sriwijaya.

Tan Bun Ann pun menyanggupi permintaan Raja Sriwijaya. Sejak itu, setiap minggu dia pergi ke istana untuk menyerahkan sebagian keuntungan dagangannya. Suatu ketika, ia bertemu dengan Siti Fatimah di istana. Sejak pertama kali melihat wajah Siti Fatimah, Tan Bun Ann langsung jatuh hati. demikian sebaliknya, Siti Fatimah pun menaruh hati kepadanya. Akhirnya, karena merasa cocok dengan Siti Fatimah, Tan Bun Ann pun berniat untuk menikahinya.

pada suatu hari, Tan Bun Ann pergi menghadap Raja Sriwijaya untuk melamar Siti Fatimah.

“Ampun, Baginda! Hamba datang menghadap kepada baginda untuk meminta restu. Jika diperkenankan, hamba ingin menikahi putri Baginda, Siti Fatimah,” ungkap Tan Bun Ann.

Raja Sriwijaya terdiam sejenak. Ia berfikir bahwa Tan Bun Ann adalah putra seorang Raja Cina yang kaya raya.

“Baiklah Tan Bun Ann! Aku merestuimu menikah dengan putriku dengan satu syarat,” kataRaja Sriwijaya.

“Apakah syarat itu, Baginda?” Tanya Tan Bun Ann penasaran.

“Kamu harus menyediakan sembilan guci berisi emas,” jawab Raja Sriwijaya.

Tanpa berfikir panjang, Tan Bun Ann pun bersedia memenuhi syarat itu.

“Baiklah, Baginda! Hamba akan memenuhi syarat itu,” kata Tan Bun Ann.

Tan Bun Ann pun segera mengirim utusan ke Negeri Cina untuk menyampaikan surat kepada kedua orang tuanya. Selang beberapa waktu, utusan itu kembali membawa surat balasan kepada Tan Bun Ann. surat balasan dari kedua orang tuanya itu berisi restu atas pernikahan mereka dan sekaligus permintaan maaf, karena tidak bisa menghadiri pesta pernikahan mereka. Namun sebagai tanda sayang kepadanya, kedua orang tuanya akan mengirim sembilan guci berisi emas. Demi keamanan dan keselamatan guci-guci yang berisi emas tersebut dari bajak laut, mereka melapisinya dengan sayur sawi tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann.

Raja Cina pun mengisi guci pertama dengan 24 emas batangan, guci kedua diisi 30 emas batangan, 12 emas batangan untuk guci ketiga, 36 emas batangan diisikan ke dalam guci keempat. Kemudian guci kelima diisi dengan 30 emas batangan sedangkan guci keenam diisi dengan 24 batangan, 18 emas batangan dimasukkan ke dalam guci ketujuh, 12 emas batangan diisikan dalam guci kedelapan, dan guci terakhir diisi dengan 30 emas batangan.

Setelah semua guci selesai diisi dengan emas batangan, Raja Cina pun meletakkan sayuran sawi diatas semua guci sehingga yang tampak adalah guci berisi emas. Selanjutnya dia menyuruh beberapa utusan untuk mengirim Sembilan guci tersebut kepada Tan Bun Ann di negeri Sriwijaya.

Saat mengetahui rombongan utusannya telah kembali, Tan Bun Ann dan Siti Fatimah bersama keluarganya serta seorang dayang setianya segera berangkat ke dermaga di Muara Sungai Musi untuk memeriksa isi ke Sembilan guci tersebut. Setibanya di dermaga, Tan Bun Ann segera memerintahkan kepada utusannya untuk menunjukkan guci-guci tersebut.

“Mana guci-guci yang berisi emas itu?” Tanya Tan Bun Ann kepada salah seorang utusannya,

“Kami menyimpannya di dalam kamar Kapal, Tuan!” jawab utusan itu seraya menuju ke kamar kapal tempat guci-guci tersebut disimpan.

Setelah utusan itu mengeluarkan kesembilan guci tersebut dari kamar kapal, Tan Bun Ann segera memeriksa isinya satu persatu. Betapa terkejutnya ia setelah melihat guci itu hanya berisi sayur sawi yang sudah membusuk.

“Oh, betapa malunya aku pada calon mertuaku. Tentu mereka akan merasa diremehkan dengan barang busuk dan erbau ini,” kata Tan Bun Ann dalam hati dengan perasaan kecewa seraya membuang guci itu ke Sungai Musi.

dengan penuh harapan, Tan Bun Ann segera membuka guci yang lainnya. Namun harapan hanya tinggal harapan. Setelah membuka guci-guci tersebut ternyata semuanya berisi sayur sawi yang sudah membusuk. Bertambah kecewalah hati putra Raja Cina itu. Dengan perasaan kesal, ia segera melemparkan guci-guci tersebut ke Sungai Musi satu persatu tanpa memeriksanya terlebih dahulu.Pertam Tan Bun Ann melempar guci yang berisi 30 emas batangan dan dilanjtkan guci-guci yang lain. Ketika ia hendak melemparkan guci yang terakhir ke sungai, tiba-tiba kakinya tersandung sehingga guci itu jatuh ke lantai kapal dan pecal. Betapa terkejutnya ia saat melihat emas-emas batangan terhambur keluar dari guci itu. Rupanya di bawah sawi-sawi yang telah membusuk tersebut tersimpan emas batangan. Ia bersama seorang pengawal setianya segera mencebur ke Sungai Musi hendak mengambil guci-guci yang berisi emas tersebut.

Melihat hal itu, Siti Fatimah segera berlari kearah pinggir kapal hendak melihat keadaan calon suaminya. Dengan perasaan cemas, ia menunggu calon suaminya itu muncul di permukaan air sungai. Karena Tan Bun Ann tidak juga muncul, akhirnya Siti Fatimah bersama dayangnya yang setia ikut mencebur ke Sungai Musi untuk mencari Pangeran dari Negeri Cina itu. Sebelum mencebur ke sungai, ia berpesan kepada orang yang ada di atas kapal itu.

“Jika ada tumpukan tanah di tepian sungai ini, berarti itu kuburan saya,” demikian pesan Siti Fatimah.

Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, muncullah tumpukan tanah di tepi Sungai Musi. Lama-lama tumpukan itu menjadi sebuah pulau. Masyarakat setempat menyebutnya Pulau Kemaro karena pulau tersebut tidak pernah digenangi air walaupun volume air di Sungai Musi sedang meningkat.

Hikmah yang dapat diambil dari kisah ini adala

manusia hendaknya selalu menahan emosi untuk marah atau merusak sesuatu yang belum pasti sehingga tidak timbul penyesalan untuk ke depannya.

Ketika menjadi anak, jangan mudah berprasangka buruk kepada orang tua, senantiasalah berprasangka baik kepada mereka.

Antara orang tua dan anak seharusnya ada komunikasi yang baik dan sehat sehingga ketika ada masalah tidak akan muncul dendam atau prasangka.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: